Mazhab syafi'i lahir sebagai penengah di saat ketegangan mulai menjadi-jadi. Dalam perkembangannya ia merupakan mazhab yang mengintegralkan antara pendekatan madrasah ahlul hadist (ulama ahli hadist) dan pendekatan madrasah ahlul ra'yi (ulama aliran nalar rasional) yang ketika itu saling memberikan pengaruh pada perkembangan ilmu fikih. Tidak sedikit dari pengikut kedua kubu itu sampai bergesekan karena berbeda metodologi dalam menyimpulkan suatu hukum syar’i, walaupun, suatu perbedaan pendapat dalam ranah furu'iyah (permasalahan cabang/ non pokok ) itu tidak diingkari oleh syara' karena terdapatnya dalil-dalil yang sifatnya ambigu dan global yang membutuhkan interpretasi para fuqoha.
Mazhab syafi'i yang diprakarsai oleh Muhammad bin Idris as-Syafi'I --bernasab quraisy yang dianut oleh sebagian besar muslim di dunia-- mencoba untuk mengharmoniskan hubungan keduanya. Datang dengan pencerahan dan pandangan baru, beliau juga ulama yang pertama kali membukukan kitab usulfiqh "ar-Risalah" sebagai master-piece nya. Beliau memiliki banyak murid di Irak sebagai penerus gagasan sang imam yang dikenal dengan qoulqadim (penadat yang lama), diantaranya yang mashur adalah al-Karabisi, Abou Tsaur, Za'farani, dan Ahmad ibnu Hambal, mereka sebagai representatif dari qoulqadim imam Syafi'i. Qoulqadim adalah pendapat imam Syafi'I ketika berdomisili di Irak atau lebih tepatnya sebelum hijrah ke Mesir, sedangkan Qouljadid adalah pendapat imam Syafi'i ketika sudah pindah ke Mesir, yang disebarkan dan dijaga oleh para murid beliau, al-Muzanni, Rabi' al-Jizi, Rabi' al-Muradi dan Buwaity.
Dalam kitab "minhaj al-thalibin" karya imam Nawawi, beliau menyebutkan beberapa istilah mazhab Syafi'i, istilah untuk pendapat sang Imam mazhab atau murid-muridnya, karena hukum fikih adalah produk ijtihad para ulama yang sudah mumpuni, atau bisa juga dikatakan; kesimpulan para ulama apa yang dipahami dari dalil al-quran dan hadis akan suatu hukum tertentu. Dengan mengetahui beberapa istilah itu kita akan melihat bahwa dalam masalah furu'iyah (permasalahan non pokok dalam agama) seseorang itu boleh berbeda dengan yang lainnya dalam melaksanakan ritual ibadah, tentu dengan argumen yang kuat, sehingga ketika ada dalil yang secara tampilan luar / zahir bertentangan dengan dalil yang lain, kemudian diadu mana yang lebih kuat argumentasinya, itu lah yang mesti diikuti pendapatnya. Sebagai contoh --yang penulis kutip dari diktat kuliah Syariáh Syu’bah Islamiyah Al-Azhar--, ketika pendapat al-ashoh ( الأصح ) dalam kitab fikih mazhab syafi'i mengatakan; sah hukumnya menjual, membeli dan menyewakan "mushaf qur'an" sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ibnu abbas, sedangkan pendapat al-shahih ( الصحيح ) mengatakan; menjual mushaf hukumnya makruh, maka jika dilihat dari pemaparan hukum tadi yang di anggap lebih kuat pendapatnya adalah yang al-ashoh ( الأصح ) walaupun mengikuti pendapat yang al-shahih ( الصحيح ) tetap diperbolehkan.
Berikut istilah-istilah dalam kitab fikih mazhab Syafi'i sebagaimana yang termaktub dalam kitab minhaj-nya imam Nawawi:
1. Al-Adzhar ( الأظهر) : yaitu pendapat imam Syafi'i akan suatu permasalahan yang diriwayatkan oleh murid-muridnya yang sampai kepada kita, al-adzhar ( الأظهر) adalah pendapat rajih (yang diunggulkan) ketika argument beliau sama-sama kuat antara dua pendapat atau lebih, antonim dari al-adzhar ( الأظهر) sekaligus yang marjuh yaitu al-dzahir ( الظاهر ).
2. Al-Masyhur (المشهور ) : pendapat imam Syafi'i yang diunggulkan (al-rajih) dari beberapa pendapat sang Imam ketika lawan argumentasinya lemah, alias dalil-dali dari pendapat yang dikatakan sebagai masyhur itu kuat dan dalil-dalil yang menyimpulkan hukum yang lain lemah, yaitu al-gharib ( الغريب ).
2. Al-Ashah ( الأصح ) : pendapat para murid imam Syafi'i --yang secara umum-- diambil dari kaidah yang telah ditetapkan sang Imam dan terkadang pendapat itu berasal dari ijtihad si murid tanpa melihat pendapat sang Imam. Jika perbedaan
