Oleh Muhammad Nuruddin
Apakah semua informasi tentang masa lampau dalam al-Quran bisa kita pandang sebagai informasi yang historis? Pertanyaan ini tentu terkait erat dengan sikap keilmuan kita sendiri dalam melihat asal muasal al-Quran. Dia ini buatan manusia, atau memang terbukti sebagai firman Allah Swt? Tegaskan poin ini terlebih dulu. Baru jawab pertanyaan itu. Kalau Anda memandang kitab suci ini sebagai karangan manusia, wajar kalau Anda tidak begitu yakin dengan historisitas kandungannya. Namanya juga buatan manusia. Wajar kalau diragukan. Jadi, meragukan historisitas kisah-kisah al-Quran hanya mungkin dilakukan kalau sejak awal kita memposisikan kitab suci ini sebagai kitab sejarah biasa, yang ditulis oleh seorang manusia. Dan untuk membenarkannya, kita harus menyimak bukti-bukti sejarahnya terlebih dulu.
Ya itu kalau kita memposisikannya sebagai karya manusia. Adapun kalau Anda sudah sampai pada kesimpulan bahwa al-Quran ini adalah firman Allah, dan Anda sudah menelaah bukti-buktinya, dan bukti-bukti itu sahih secara keilmuan, maka sebagai konsekuensi logisnya Anda harus membenarkan semua isinya. Karena Tuhan tidak mungkin berbohong. Yang disampaikan-Nya sudah pasti sesuatu dengan fakta. Karena Dia sendirilah yang lebih tahu tentang fakta-fakta sejarah itu. Kalau sesuai dengan fakta, berarti itu bagian dari sejarah. Itu sesuatu yang historis; yang benar-benar terjadi di masa lampau. Tapi kalau Anda memposisikan al-Quran sebagai firman Tuhan, lalu Anda meragukan historisitas informasinya, ya berarti ada yang bermasalah dengan cara berpikir Anda.
Untuk membuktikan historisitas kisah-kisah al-Quran kita tidak perlu menunggu tampilnya bukti-bukti sejarah. Karena sejak awal al-Quran memang bukan kitab sejarah. Dia terbukti sebagai firman Tuhan. Bukan hanya sebatas diyakini sbg firman Tuhan. Kalau Anda belum bisa menerima itu, mending kita debat dulu, bener nggak dia itu firman Tuhan? Apa bukti-bukti keilahiannya? Kita tidak membenarkan al-Quran melalui ayat al-Quran, sehingga dengan begitu kita terjebak dalam circular reasoning. Yang kita jadikan sebagai pijakan ialah argumen-argumen rasional, yang tidak menjadi bagian dari al-Quran. Bukti sejarah itu bisa dijadikan penguat. Tapi, bukan berarti kalau tidak ada bukti sejarah lantas kemudian kita menafikan historisitasnya!
Kecuali Anda bisa membuktikan dulu, bahwa kitab ini memang hanya kitab sejarah biasa. Sayang, dengan alasan ingin mengkaji secara ilmiah, kalangan Muslim sendiri ada yang terjebak dalam paradoks semacam itu. Tidak memandang kisah al-Quran sebagai fakta historis, padahal sejak awal dia memposisikannya sebagai firman Tuhan! Aneh. Ya kalau nggak historis berarti nggak sesuai dengan fakta dong. Kalau nggak sesuai dengan fakta berarti bohong. Tapi, mereka biasanya nggak terima kalau dibilang mendustakan firman Tuhan. Padahal konsekuensi logis dari pandangan mereka memang akan berakhir dengan pendustaan itu.
Upaya untuk meragukan historisitas kitab suci ini tampaknya akan selalu ada. Tapi cara Allah menjaga kitab suci-Nya juga tidak akan pernah berhenti. Tidak ada satu syubuhat pun tentang al-Quran, kecuali jawabannya ada dalam karya-karya ulama Muslim. Itu klaim yang bisa Anda buktikan sendiri kalau membaca karya-karya mereka. Buku "syubuhat tarikhiyyah haula al-quran" ini adalah salah satu karya penting yang mengcounter syubuhat seputar informasi-informasi sejarah dalam al-Quran itu. Penulisnya tidak hanya mahir bahasa Arab, tapi juga Ibrani, Inggris dan Prancis. Karena itu informasinya cukup padat.
Sebelum meluncurkan buku ini, Dr. Sami Amiri juga pernah menelurkan karya yang lebih tebal dalam bidang kajian serupa. Dengan judul "al-wujud at-tarikhi li al-anbiya." Saya sudah baca buku itu. Itu buku keren. Kalau Anda merasa ragu apakah nabi-nabi yang tertera dalam al-Quran itu termasuk sosok-sosok yang real dalam sejarah atau bukan, dan Anda butuh dengan bukti-bukti sejarahnya, buku itu sangat layak untuk Anda baca. Dia juga mengulas tentang temuan-temuan arkeologis. Sekaligus mengulas satu pertanyaan penting: Apakah bukti-bukti arkeologis itu bersifat meyakinkan atau tidak?
Jangan salah, itu pertanyaan penting. Karena di luar sana ada orang-orang yang memandang bukti-bukti arkeologis itu sebagai bukti sejarah yang bersifat pasti. Padahal belum tentu. Kenapa bisa begitu? Buku yang terakhir disebut menyajikan jawabannya. Umat Muslim tidak kekurangan literatur untuk meyakinkan keotentikan dan keilahian kitab sucinya. Semakin banyak yang meragukan, semakin berlimpahlah buku-buku yang cemerlang. Sungguh benarlah firman Allah Swt dalam permulaan kitab suci itu. "Kitab ini tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (2: 2). Demikian. Dan selamat membaca.
