Oleh Abdul Wahhab Ahmad
Seperti di SS terlampir, saya pernah memberikan pertanyaan jebakan pada seorang peternak akun Taymiy (pengikut Ibnu Taymiyah) tentang kalamullah yang dia yakini berupa suara dalam arti gelombang getar yang berupa bunyi itu. Pertanyaannya: “Kalau memang Allah bersuara, lalu suaranya keluar dari mana?”.
Dan benar, lawan diskusi saya tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu sebab akan jatuh pada kontradiksi pahit. Namanya saja pertanyaan jebakan; dijawab salah, tidak dijawab pun juga salah. Saya sengaja menulis status itu dan bilang tak ada yang dapat menjawab agar ada Taymiyun yang terjebak. Seperti biasa, jebakan saya selalu berhasil. Jadi, sebenarnya bukan soalnya tidak bisa dijawab sebab saya pun tahu apa jawabannya, tapi kalau dijawab dengan benar, maka mazhab sesatnya Taymiyun akan terbongkar atau runtuh dan itulah tujuan saya.
Salah yang terjebak dalam pertanyaan sederhana ini adalah akun atas nama Abu Usaid yang jawabannya akan kita bahas sekarang. Karena menurut saya bahasanya sopan, maka saya mengapresiasinya dengan jawaban dalam status khusus. Dia berupaya membenturkan saya dengan Syaikh Ibnu Qudamah rahimahullah yang menurutnya telah menjawab dengan baik pertanyaan saya sejak lama. Syaikh Ibnu Qudamah menjawab pertanyaan itu dalam tiga poin yang intinya sebagai berikut:
(1) Huruf dan suara tidak mesti keluar dari jisim.
(2) Sifat-sifat Allah yang lain ditetapkan tanpa jisim, maka suara dan huruf juga bisa ditetapkan tanpa harus menetapkan jisim yang menjadi instrumen suara itu.
(3). Allah dapat membuat makhluk berkalam tanpa suara
Dengan demikian, maka dalam perspektif Syaikh Ibnu Qudamah, Allah berkalam dengan suara tetapi itu bukan berarti suaranya keluar dari jisim sehingga jangan diartikan bahwa orang yang menetapkan suara berarti menetapkan kejisiman Allah. Kutipan lengkap perkataan dan argumen Ibnu Qudamah dapat dilihat di SS.
Komentar saya:
Jawaban Syaikh Ibnu Qudamah itu benar. Dia adalah salah satu pengikut Imam Ahmad garis lurus yang berarti akidahnya sesuai dengan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah, tidak seperti Taymiyun yang melenceng dari akidah Imam Ahmad meskipun tidak mengaku. Yang tidak diketahui oleh Abu Usaid dan Taymiyun lainnya adalah jawaban seperti itu memang salah satu jawaban standar para ulama Aswaja (Asy’ariyah-Maturidiyah). Silakan dicek kitab-kitab standar Maturidiyah untuk mengonfirmasi ucapan saya ini. Para Taymiyun gigih sekali menentang dan menyesatkan akidah Aswaja tetapi tidak paham betul akidah Aswaja itu bagaimana sehingga tanpa sadar mereka kerap mengutip pendapat ulama Aswaja untuk menyalahkan ajaran Aswaja sendiri. Ini blunder khas mereka.
Jadi, ada beberapa poin yang harus diketahui tentang ini:
1. Apa yang diyakini oleh Ibnu Qudamah itu adalah ajaran Maturidiyah dan sebagian Asy’ariyah. Mereka meyakini bahwa kalamullah itu selain berupa sifat yang qadim melekat pada Allah (berupa kalam nafsi) juga berupa suara dan huruf yang disampaikan pada manusia. Dan mereka juga sepakat bahwa Allah bukan jisim sehingga tidak mempunyai organ yang bergetar memproduksi gelombang getar bernama suara itu. Sekali lagi, ini adalah salah satu pendapat Aswaja selain pendapat mayoritas Asy’ariyah yang menyatakan bahwa Allah berkalam tanpa suara dan huruf. Jadi, memang ada ulama Aswaja yang menetapkan suara, seperti Imam Ahmad, tetapi tetap dalam pemahaman Allah bukan jisim tidak seperti Ibnu Taymiyah yang menetapkan kejisiman Allah. Poin penetapan suara ini adalah salah satu tema perbedaan pendapat antara Asy’ariyah dan Maturidiyah. Namun sebagaimana maklum, keduanya adalah Ahlussunnah wal Jamaah sehingga mau ikut yang mana pun terserah.
2. Suara yang ditetapkan di sini karena tidak keluar dari jisim maka otomatis bukanlah suara yang berasal dari getaran jisim atau organ penghasil suara. Lalu keluar dari mana? Tidak keluar dari mana-mana, tapi diciptakan. Ya, suara dalam arti gelombang getar yang didengar gendang suara manusia adalah suara yang diciptakan alias makhluk. Ia tidak qadim tetapi jelas-jelas hadits alias punya awal mula. Dengan demikian, suara ini bukan sifat Allah tetapi sesuatu yang diciptakan oleh Allah sebagai media untuk menyampaikan kalam-Nya pada manusia. Sifat Allah seluruhnya qadim tanpa awal mula, sedangkan suara yang didengar telinga tentu saja tidak ada yang qadim sebab ia punya awal mula. Tidak ada yang mengingkari ini kecuali orang-orang yang logikanya sakit.
3. Meskipun suara yang didengar telinga adalah makhluk, tetapi apabila suara itu berisi pesan kalamullah, maka dalam kebiasaan Aswaja suara itu juga disebut sebagai kalamullah. Ayat at-Taubah: 6 adalah salah satu dalil yang memperkuat kebiasaan menyebut suara berisi pesan kalamullah sebagai kalamullah itu sendiri. Akan tetapi, dilarang keras mengatakan bahwa kalamullah adalah makhluk sebab ini membuat orang salah paham seolah sifat kalam yang qadim adalah makhluk juga. Jadi, istilah kalamullah sendiri musytarak atau dipakai untuk dua hal yang berbeda, yakni untuk hakikat sifat Allah yang qadim dan untuk hakikat suara yang didengar oleh telinga manusia yang tentu saja tidak qadim (makhluk).
4. Hasyawiyah (hanabilah garis bengkok) menolak nalar sehat perincian ini. Mereka bersikukuh mengatakan bahwa suara Allah adalah suara dalam arti yang biasa kita kenal (sebagai gelombang getar) yang keluar dari Allah, punya awal mula dan akhiran, tapi juga qodim dan bukan makhluk. Karena saking absurdnya, para ulama Aswaja menyebut mereka Hasyawiyah (orang pinggiran yang tidak perlu dihiraukan). Mana ada sesuatu yang jelas-jelas punya awalan lalu disebut qadim (tak berawal)? Wahabi yang ada sekarang banyak sekali yang masuk kategori Hasyawiyah sehingga selalu menabrak akal sehat.
5. Syaikh Ibnu Taymiyah dan para Taymiyun garis keras melangkah lebih jauh dari sekedar Hasyawiyah. Sering saya bahas bahwa dia adalah seorang mujassim yang meyakini Allah adalah wujud berukuran fisik besar yang mempunyai sisi-sisi tubuh yang beragam, punya berat badan yang membuat Arasy merintih, punya arah fisik, batasan fisikal dan tentu saja punya organ-organ dengan fungsi tertentu semisal memegang, melihat, mendengar dan bersuara. Buku saya yang berjudul “Kerancuan Akidah Wahabi” sudah mengulas lengkap akidah mereka dari sumber-sumber primer yang otentik. Pertanyaan jebakan saya di atas dibuat hanya agar Taymiyun yang bertaqiyyah mau membuka topengnya. Mereka yang cerdas tidak mau menjawab pertanyaan itu sebab paham konsekuensinya.
6. Akidah tajsim para Taymiyun tentu sangat berbeda dengan akidah Syaikh Ibnu Qudamah yang jelas-jelas mengatakan bahwa dia hanya mengimani teks ayat atau hadis saja (mujarrad al-alfadz) tapi sama sekali tidak memaknai atau menafsirkan apa pun terkait sifat Allah. Ingat, sifat Allah bukan jisim Allah. Adapun Taymiyun bukan hanya mengimani teksnya, tapi malah menafsirkan dan memaknainya sehingga berbenturan dengan akal sehat dan jatuh pada tajsim. Jadi, pertanyaan yang saya ajukan pada para mujassim Taymiyun di atas tidak dapat dipatahkan dengan pernyataan Ibnu Qudamah tersebut, malah tidak nyambung. Sebagai catatan yang selalu saya ulang, teks hadis tentang suara dianggap sahih oleh ulama yang menetapkannya sedangkan bagi ulama yang menolaknya dianggap lemah. Ini khilafiyah yang lumrah terjadi dalam bidang hadis. Tak bisa ada yang dibilang sesat sebab berbeda pendapat soal derajat hadis.
7. Kalau Abu Usaid atau Taymiyun lainnya mau mengikuti pendapat Ibnu Qudamah yang notabene juga sama dengan pendapat Maturidiyah dan sebagian Asy’ariyah, maka dipersilakan saja bahkan bagus. Tetapi harus konsisten di situ dan jangan sampai melampaui batas hingga menjadi Hasyawiyah atau Mujassimah. Bila konsisten, maka mereka akan mentafwidh kata “suara” atau mentakwilnya dan tidak akan memaknainya dengan makna yang dikenal sebagai gelombang suara yang berasal dari getaran jisim. FYI, Ibnu Qudamah rahimahullah dalam beberapa detail terkena wahm (salah paham) tentang ajaran Asy’ariyah sehingga mengutuk keras Asy’ariyah. Ini tidak menjadikan Asy’ariyah salah sebab kritik itu hanya muncul dari kesalahpahaman belaka. Ulama Asy’ariyah pun tidak pernah ambil pusing dengan kritik wahm seperti itu dan tidak juga baper hingga menyesatkan balik Ibnu Qudamah atau membuang waktu membantahnya secara khusus di kitab-kitab mereka. Kapan-kapan saja saya bahas soal ini.
8. Bila menolak untuk memahami “suara Allah” dengan tafwidh dan takwil, maka akan jatuh pada dua konsekuensi yang sama-sama pahit bagi para Taymiyun: (1) Jatuh pada tajsim yang disepakati sebagai kesesatan. (2) Jatuh pada kesimpulan bahwa kalamullah tidak qadim (alias makhluq) sebab suara jelas-jelas tidak qadim. Silakan dipilih yang mana.
Semoga bermanfaat.
