Oleh Wahyudi Kanthongumur
Ada tujuh tempat di mana lafaz ini muncul, yang semuanya menggambarkan bagaimana seorang mukmin seharusnya bersikap dalam menghadapi berbagai keadaan.
Keindahan ini tampak dalam empat hal utama:
1. Sabar yang Baik (صبر جميل)
Sabar yang baik adalah sabar tanpa mengeluh, tidak diiringi dengan rasa putus asa atau keluhan kepada manusia.
Kesabaran seperti ini dicontohkan oleh Nabi Ya’qub saat menghadapi ujian kehilangan putranya:
قال بل سولت لكم أنفسكم أمرا فصبر جميل والله المستعان على ما تصفون
"Dia (Ya‘qub) berkata, ‘Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka kesabaran yang baik itulah (sikapku). Dan hanya Allah-lah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.’
(QS. Yusuf: 18)
Dalam ayat lain, ketika kembali kehilangan putranya yang lain, beliau tetap menunjukkan kesabaran yang sama:
قال بل سولت لكم أنفسكم أمرا فصبر جميل عسى الله أن يأتيني بهم جميعا إنه هو العليم الحكيم
"Dia (Ya‘qub) berkata, ‘Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka kesabaran yang baik itulah (sikapku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.’
(QS. Yusuf: 83)
Allah juga menegaskan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dalam firman-Nya:
فاصبر صبرا جميلا
"Maka bersabarlah dengan kesabaran yang baik." (QS. Al-Ma‘arij: 5)
2. Menjauhi dengan Baik (هجر جميل)
Ketika seseorang harus meninggalkan atau memutuskan hubungan dengan sesuatu yang tidak baik, hendaknya dilakukan tanpa menyakiti atau menimbulkan permusuhan.
Allah berfirman kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam:
واصبر على ما يقولون واهجرهم هجرا جميلا
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, serta jauhilah mereka dengan cara yang baik." (QS. Al-Muzzammil: 10)
Ini adalah bentuk ketegasan dalam prinsip tanpa menimbulkan kebencian atau permusuhan.
3. Melepaskan dengan Baik (سراح جميل)
Dalam hubungan pernikahan, jika perceraian harus terjadi, Islam mengajarkan untuk melakukannya dengan baik tanpa menyakiti perasaan.
Allah berfirman:
يا أيها النبي قل لأزواجك إن كنتن تردن الحياة الدنيا وزينتها فتعالين أمتعكن وأسرحكن سراحا جميلا
"Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: ‘Jika kalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka kemarilah, akan aku berikan pemberian kepadamu dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik.’"
(QS. Al-Ahzab: 28)
Begitu pula dalam ayat lain:
يا أيها الذين آمنوا إذا نكحتم المؤمنات ثم طلقتموهن من قبل أن تمسوهن فما لكم عليهن من عدة تعتدونها فمتعوهن وسرحوهن سراحا جميلا
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menikahi perempuan-perempuan mukmin lalu kalian menceraikan mereka sebelum kalian menyentuh mereka, maka tidak ada masa iddah bagi mereka yang perlu kalian perhitungkan. Maka berilah mereka mut‘ah (pemberian) dan ceraikanlah mereka dengan cara yang baik."
(QS. Al-Ahzab: 49)
4. Memaafkan dengan Baik (صفح جميل)
Memaafkan dengan baik adalah memberikan maaf tanpa mencela atau mengungkit kesalahan.
وما خلقنا السموات والأرض وما بينهما إلا بالحق وإن الساعة لآتية فاصفح الصفح الجميل
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan kebenaran. Dan sesungguhnya kiamat itu pasti datang. Maka maafkanlah dengan cara yang baik." (QS. Al-Hijr: 85)
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kata "jamil" dalam Al-Qur’an mengajarkan bahwa keindahan sikap seorang mukmin terletak dalam:
1. Kesabaran yang baik tanpa keluhan
2. Menjauhi dengan baik tanpa menyakiti
3. Melepaskan dengan baik tanpa merusak harga diri
4. Memaafkan dengan baik tanpa menyimpan dendam
