oleh KH. Ma'ruf Khozin
Kalau baca Fatihah di awal atau akhir acara adalah Bidah Munkarah, maka bidahkan dulu Syekh Ibnu Qayyim, murid Syekh Ibnu Taimiyah, dan bidahkan juga ulama Salaf lainnya. Sebab beliau meriwayatkan dari ulama Salaf bacaan Fatihah ketika mengawali Fatwa:
وكان بعض السلف يقول عند الإفتاء: سبحانك لا علم لنا إلا ما علمتنا، إنك أنت العليم الحكيم.. وكان بعضهم يقرأ الفاتحة، وجربنا نحن ذلك فرأيناه أقوى أسباب الإصابة
Sebagian ulama Salaf berdoa saat mengeluarkan Fatwa "Maha suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami kecuali apa yang Engkau ajarkan pada kami. Sungguh Engkau maha mengetahui dan maha bijaksana".... Sebagian Ulama Salaf membaca Fatihah. Dan kami sudah mencobanya dan kami lihat sebagai hal terkuat di antara sebab kebenaran dalam berfatwa (I'lam Al-Muawwiqin, 4/198)
Jelas sekali Ibnu Qayyim melakukan amalan yang tidak diajarkan oleh Nabi. Aneh bagi saya, penganut Salafi tapi tidak tahu bahwa Fatihah adalah amalan Ulama Salaf, menunjukkan mereka minim literasi tapi maksimal klaim bidah.
Di samping itu, para Ulama Salaf punya sandaran istimbath perihal doa Fatihah. Yaitu saat Sahabat Abu Sa'id Al Khudri membacakan Surat Fatihah bagi pemimpin Kabilah yang tersengat binatang berbisa. Beliau mendoakan dengan Fatihah dan sembuh. Setelah diceritakan kepada Nabi ternyata Nabi tidak menyalahkan. Kalau kelompok Salafi belum tahu hadis tersebut ya kebangetan lah. Sebab termaktub dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Justru dari hadis tersebut Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan:
ﻭﻓﻴﻪ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻋﻨﺪ ﻓﻘﺪ اﻟﻨﺺ ﻭﻋﻈﻤﺔ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺻﺪﻭﺭ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺧﺼﻮﺻﺎ اﻟﻔﺎﺗﺤﺔ
Hadis tersebut menjelaskan Ijtihad mana kala tidak ada dalil Nash dan betapa agungnya Al Qur'an dalam hati para Sahabatnya, khususnya Al Fatihah (Fathul Bari, 4/457)
Ukuran bidah bagi kelompok Salafi cuma satu, yakni setiap amalan yang mereka tidak tahu -karena jarang baca kitab ulama- maka tinggal divonis bidah. Jadi tidak perlu alim banget sudah jadi ustaz di kalangan mereka.
